Kasus Pengaturan Skor di Indonesia, dari Level Liga 2 hingga Internasional

liga 2

Lagi-lagi praktik pengaturan skor atau match fixing mencoreng sepakbola Indonesia yang susah payah bangkit. Beberapa waktu lalu, praktik ini menodai Liga 2 dan Liga 3. Praktis, hal ini membuat masyarakat pecinta bola Indonesia sangat kecewa.

Sebelumnya juga ada kasus pengaturan skor yang terkuak dan menggegerkan para pecinta bola nasional. Bahkan, kasus yang dulu pernah terjadi tersebut melibatkan pertandingan dengan level yang lebih tinggi.

Nah, apa saja praktik pengaturan skor yang pernah terjadi tersebut?

  1. Match Fixing Persebaya VS Persipura

Praktik pengaturan skor yang tercatat pertama kali terjadi pada laga besar antara Persebaya dengan Persipura. Pengaturan skor ini terjadi pada kompetisi saat masih Divisi Utama Perserikatan pada musim 1987-1988.

Tidak tanggung-tanggung, saat itu skor yang dihasilkan hingga 0-12 dengan kemenangan Persipura. Persebaya dianggap sengaja mengalah karena tidak ingin PSIS Semarang masuk ke putaran selanjutnya. Hal ini dilakukan karena bentuk balas dendam Persebaya kepada PSIS Semarang.

Bentuk balas dendam tersebut diawali pada kompetisi yang sama di musim 1985-1986. Saat itu PSIS kalah dengan PSM Makassar yang merupakan pesaing utama Persebaya. Karena kekalahan PSIS Semarang itulah tim yang bergelar Bajul Ijo tidak bisa lolos ke babak perempat final.

  1. Match Fixing Timnas Indonesia VS Thailand

Pada level internasional juga pernah terjadi pengaturan skor, bahkan melibatkan tim nasional dari dua negara. Saat itu terjadi pengaturan skor untuk menentukan juara Grup A dan runner up pada gelaran Piala Tiger 1998.

Dari pertandingan yang dilangsungkan tersebut, pemenang akan berhadapan dengan Vietnam. Dimana tim ini pada saat itu merupakan tuan rumah. Sehingga kedua tim sama-sama tidak ingin memenangkan pertandingan.

Dalam laga tersebut, pemain Indonesia Mursyid Effendi melakukan gol bunuh diri dengan sengaja. Hal itu juga yang membuat pemain asal Thailand juga melakukan hal yang sama. Skor akhir pada pertandingan ini 2-3 untuk kemenangan Thailand.

Setelah pertandingan ini, Indonesia dan Thailand mendapat sanksi dari FIFA. Sedangkan Mursyid Effendi mendapatkan saksi keras, berupa larangan bermain di kejuaraan internasional selama seumur hidup.

  1. Match Fixing PSS Sleman VS PSIS Semarang

Pada laga ini muncul istilah Sepak Bola Gajah. Pertandingan yang terjadi pada gelaran delapan besar Divisi Utama pada 26 Oktober 2014 ini menghasilkan skor 3-2 dengan kemenangan PSS Sleman. Lima gol yang tercipta tersebut berasal dari gol bunuh diri masing-masing pemain.

Laga antara PSS Sleman dan PSIS Semarang ini ingin saling mengalah untuk menghindari bertemu dengan Borneo FC. Karena pada saat itu, tim dari Kalimantan tersebut dianggap paling kuat, karena menjadi tuan rumah.

Pertandingan ini pun layaknya sepak bola gajah yang berjalan tidak profesional. Dilihat dari permainan pun membuat para fans sangat kecewa, karena pertandingan yang dilakukan benar-benar membosankan.

  1. Match Fixing PSMP Mojokerto Putra VS Aceh United

Laga ini ada dugaan suap untuk pengaturan skor pada gelaran Liga 2. Saat itu, Aceh United berhasil menundukkan PSMP Mojokerto dengan skor 3-2.

Kejadian aneh terjadi saat menit ke-87, dimana PSMP mendapat hadiah penalti dari wasit. Namun, algojo penalti dari PSMP, Krisna Adi sengaja tidak mengarahkan tendangan ke arah gawang.

Dari dugaan tersebut, Komdis PSSI akhirnya membuat penyelidikan, dan memberikan sanksi kepada Krisna Adi dan tim PSMP Mojokerto. Dimana tim ini tidak boleh melakukan pertandingan di Liga 2, dan Krisna Adi dilarang bermain seumur hidup.

Itulah beberapa kasus pengaturan skor yang pernah terjadi di Indonesia dan sangat menodai sportivitas sepakbola. Ikuti berita sepakbola Nasional terkini dan terlengkap, jangan sampai ketinggalan!